Masjid Patimburak Fakfak; Pilar Islam di Bumi Papua

Masjid Patimburak Fakfak

Masjid Patimburak Fakfak

Masjid Patimburak adalah sebuah masjid tua bersejarah dan terletak di Distrik Kokas, Fakfak, Papua Barat. Masjid ini merupakan salah satu peninggalan sejarah Islam di Papua dan menjadi salah satu pusat agama Islam di Kabupaten Fakfak. Masyarakat setempat mengenal masjid ini sebagai Masjid Tua Patimburak. Menurut catatan sejarah, masjid ini telah berdiri lebih dari 200 tahun lalu, bahkan merupakan masjid tertua di Kabupaten Fakfak. Bangunan yang masih berdiri kokoh dan berfungsi hingga saat ini dibangun pada tahun 1870 oleh seorang imam bernama Abuhari Kilian.
Masjid Patimburak tidak bisa dilepaskan dari bagaimana penyebaran Islam ke Bumi Cenderawasih ini. Banyak sekali sumber sejarah yang menyebutkan bagaimana Islam bisa sampai dan menyebar di Papua. Salah satu sumber masuknya Islam adalah versi Bacan.1
Kesultanan Bacan dari Maluku pada masa Sultan Muhammad al-Bakir—lewat Piagam Kesiratan yang dicanangkan oleh peletak dasar Mamlakatul Mulukiyah atau Moloku Kie Raha (Empat Kerajaan Maluku: Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo), melalui walinya Ja’far ash-Shadiq (1250 M), lewat keturunannya ke seluruh penjuru negeri—menyebarkan syiar Islam ke Sulawesi, Filipina, Kalimantan, Nusa Tenggara, Jawa dan Papua. Dengan semangat Piagam Kesiratan inilah misi dakwah Islam menapaki Papua.
Menurut Arnold, Raja Bacan yang pertama masuk Islam bernama Zainal Abidin yang memerintah tahun 1521 M. Ia telah menguasai suku-suku di Papua serta pulau-pulau di sebelah barat lautnya, seperti Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati. Kemudian Sultan Bacan meluaskan kekuasaannya sampai ke Semenanjung Onin Fakfak, di barat laut Papua pada tahun 1606 M. Melalui pengaruh dia dan para pedagang Muslim, para pemuka masyarakat pulau-pulau tersebut memeluk agama Islam.2
Meskipun masyarakat pedalaman masih tetap menganut animisme, rakyat pesisir menganut agama Islam. Dari sumber-sumber tertulis maupun lisan serta bukti-bukti peninggalan nama-nama tempat dan keturunan Raja Bacan yang menjadi raja-raja Islam di Kepulauan Raja Ampat, diduga kuat bahwa yang pertama menyebarkan Islam di Papua adalah Kesultanan Bacan sekitar pertengahan abad XV. Kemudian pada abad XVI barulah terbentuk kerajaan-kerajaan kecil di Kepulauan Raja Ampat itu.
Penyebaran Islam di Kokas tak lepas dari pengaruh Kekuasaan Sultan Tidore di wilayah Papua. Pada abad ke-15, Kesultanan Tidore mulai mengenal Islam. Sultan Ciliaci adalah sultan pertama yang memeluk agama Islam. Sejak itulah sedikit demi sedikit agama Islam mulai berkembang di daerah kekuasaan Kesultanan Tidore, termasuk Kokas.3
Kaum Muslim di Fakfak datang dari masa Kesultanan Tidore dan Ternate. Masjid Tua Patimburak yang berlokasi di Kokas, Fakfak, Papua Barat ini menjadi bukti sejarah syiar Islam telah menyentuh tanah Papua beratus tahun lampau. Jika bertandang ke masjid tua ini, terselip atmosfer religi yang menyembul di antara belantara. Masjid ini berada di kampung yang dihuni tak lebih dari 36 kepala keluarga. Kesederhanaan terasa menyatu antara masjid dan kehidupan masyarakatnya.
Masjid Patimburak yang telah beberapa kali direnovasi ini memiliki keunikan pada arsitekturnya. Perpaduan bentuk masjid dan gereja terlihat jelas. Ini menunjukkan toleransi sudah tumbuh lama di Kokas. Empat pilar penyangga yang terdapat di dalam masjid masih menggunakan material yang asli.
Masjid tua ini dibangun pada masa Raja Wertuer I yang bernama kecil Semempe. Saat itu Islam dan Kristen sudah menjadi dua agama yang hidup berdampingan di Papua. Ketika dua agama ini akhirnya masuk ke wilayahnya, Wertuer sang raja tak ingin rakyatnya terbelah kepercayaannya.
Karena itu ia lalu membuat sayembara: misionaris Kristen dan imam Muslim ditantang untuk membuat masjid dan gereja. Masjid didirikan di Patumburak, gereja didirikan di Bahirkendik. Bila salah satu di antara keduanya bisa menyelesaikan bangunannya dalam waktu yang ditentukan, maka seluruh rakyat Wertuer akan memeluk agama itu.
Masjidlah yang berdiri pertama kali. Karena itu raja dan seluruh rakyatnya pun memeluk Islam. Bahkan sang raja kemudian sekaligus menjadi imam, dengan pakaian kebesarannya berupa jubah, sorban, dan tanda pangkat di bahunya. Sejak saat itu, Masjid Patimburak menjadi tempat Raja menjalankan roda pemerintahannya. Agama Islam menjadi agama resmi negara dengan penerapan syariah Islam secara menyeluruh di seluruh aspek kehidupan. Syariah Islam menjadi pilar aturan yang merangkai seluruh permasalahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.4
Masjid yang menjadi pilar Islam di bumi Papua itu hingga kini masih berdiri megah di pinggir Teluk Kokas. Masjid ini masih difungsikan sebagai tempat ibadah 36 kepala keluarga dengan 147 jiwa yang tinggal di sekitarnya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Masjid Patimburak Fakfak; Pilar Islam di Bumi Papua"

Post a Comment