Masjid Laweyan: Gerbang Islam di Kota Bengawan

Masjid Laweyan

Masjid Laweyan


Masjid Laweyan

Meski usianya kini mendekati lima abad, masjid tertua di kota Surakarta ini masih berdiri dengan kokohnya. Masjid dengan arsitektur  perpaduan antara Jawa, Cina dan Islam tersebut merupakan saksi bisu sejarah perjalanan dakwah Islam di Kota Solo.
Pada awalnya berupa pura, tempat ibadah agama Hindu. Namun, seiring dengan keberhasilan dakwah Islam, bangunan itu diubah fungsinya menjadi sebuah masjid. Itulah Masjid Laweyan. Masjid ini menjadi pintu masuknya Islam di Kota Bengawan.
Masjid seluas 162 Meter Persegi tersebut dibangun pada tahun 1546 saat Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) berkuasa di Kerajaan Pajang. Artinya, pendirian masjid ini mendahului terbentuknya Kota Solo itu sendiri, yakni tahun 1745. Menurut sebuah informasi, masjid ini menggunakan paku-paku emas untuk menyambungkannya. Ketua Ta’mir Pelaksana, H. Ahmad Sulaiman, mengatakan bahwa Masjid Laweyan merupakan salah satu Masjid Negara dengan SK Bung Karno.
Di belakang masjid terpisah, terdapat komplek makam kerabat Keraton Pajang, Kartasura dan Surakarta. Di antaranya terdapat makam Kyai Ageng Henis, Paku Buwono II, Permaisuri Paku Buwono V, Pangeran Widjil I Kadilangu (pujangga Keraton Surakarta ), Nyai Ageng Pati, Nyai Pandanaran, Prabuwinoto anak bungsu dari Paku Buwono IX, Kyai Ageng Proboyekso dan Ki Ageng Beluk.
Masjid Laweyan terletak di Dusun Belukan, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Solo. Nama Kampung belukan diambil dari kata beluk yang berarti asap. Konon dengan banyaknya rakyat yang memeluk agama Islam, berdiri pula sebuah pesantren yang pengikutnya banyak. Karena banyaknya santri yang menjadi pengikut maka pesantren ini tidak pernah berhenti menanak nasi dan selalu keluarlah asap dari dapur pesantren.
Sebelumnya, tanah bangunan masjid ini ialah milik Ki Ageng Beluk, seorang pemimpin spiritual umat Hindu di Laweyan yang kemudian masuk Islam setelah didakwahi oleh sahabat Sunan Kalijaga, yakni Ki Ageng Henis. Sanggar Hindu milik Ki Beluk pun kemudian diubah menjadi sebuah langgar (mushala) sebagai tempat beribadah umat Islam.
Ki Ageng Henis merupakan Putra dari Ki Ageng Sela yang masih keturunan Raja Brawijaya, artinya masih keturunan raja-raja Majapahit. Kakek kandung Paku Buwono (PB) II inilah yang kemudian menurunkan raja-raja dinasti Mataram Islam di Jawa Tengah kala itu.
Masjid Laweyan menjadi pionir perkembangan Islam di Surakarta waktu itu. Kegiatan-kegiatan dakwah berjalan begitu massif sehingga warga masyarakat pun berbondong-bondong memeluk agama Islam.
Pada masa perjuangan melawan penjajahan Belanda, Masjid Laweyan memberikan peranan yang begitu strategis. Selain sebagai rumah ibadah, masjid ini juga digunakan sebagai tempat berkumpul dan menyiasati perlawanan terhadap penjajah. Masjid ini pun dijadikan oleh para ulama sebagai tempat untuk memompa semangat jihad kaum Muslim saat itu.
Sebagaimana penuturan Ahmad Sulaiman, pejuang yang berhasil mendapat kematian syahid pertama ketika berperang melawan Belanda di wilayah Surakarta adalah berasal dari jamaah Masjid Laweyan tersebut. Mujahid itu ialah seorang pemuda bernama Ahmad Hanani.
Masjid ini juga menjadi basis bagi organisasi Hizbullah divisi Sunan Bonang, sebuah Laskar Islam pencetak para pejuang gagah berani. Selain memiliki fisik kuat, mereka juga dilengkapi dengan persenjataan yang lengkap. Anggotanya dikenal memiliki kesadaran tinggi bahwa mereka harus benar-benar melenyapkan campur tangan orang-orang kafir dari Nusantara, baik orang-orang Belanda, pengkhianat yang ateis komunis, para antek-antek Belanda maupun orang-orang yang bekerjasama atau membantu mereka.
Tokoh besar pejuang Islam lainnya yang begitu identik dengan Masjid Laweyan ialah Kiai Haji Samanhudi. Beliau merupakan tokoh pergerakan nasional Indonesia yang juga merupakan pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI). Pada masa itu, Laweyan memiliki peran politik yang cukup besar, karena juga ditopang oleh kekuatan ekonomi yang sangat besar  melalui kerajinan batiknya.
Selain memupuk jiwa berdagang, memberi bantuan kepada para anggotanya yang mengalami kesulitan ekonomi, memajukan pengajaran, SDI begitu aktif menebar dakwah Islam, menggalang persatuan umat Islam khususnya dalam memajukan kehidupan umat Islam yang berlandaskan al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw.
Setelah dipimpin oleh HOS Cokroaminoto, SDI berganti nama menjadi Sarekat Islam (SI). Tujuannya agar ruang gerak lebih luas, tidak hanya dominan bergerak di bidang ekonomi, tetapi juga bidang politik. Organisasi rintisan Kiai Samanhudi ini pun menjadi organisasi yang begitu disegani di Indonesia.
Pasca kemerdekaan, kegiatan dakwah terus berlanjut. Masjid Laweyan terus menjadi salah satu pusat kegiatan dan penyebaran dakwah Islam di Solo.
Hingga kini, Masjid Laweyan tetap makmur. Beberapa kegiatan syiar Islam seperti pengajian akbar, pengajian umum, Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), serta kegiatan-kegiatan keislaman lainnya terus diselenggarakan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Masjid Laweyan: Gerbang Islam di Kota Bengawan"

Post a Comment