Ironis.
Di negeri yang
sering menyebut guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”, masih banyak
guru yang hidup dalam keterbatasan.
Gaji rendah.
Status honorer bertahun-tahun.
Bahkan ada yang dikriminalisasi ketika berusaha mendisiplinkan siswa.
Ini bukan
sekadar masalah profesi.
Ini adalah
cermin bagaimana sebuah sistem memandang ilmu dan para pendidiknya. 📚
Banyak
guru honorer menerima gaji yang jauh dari kata layak.
Sebagian dari
mereka harus mencari pekerjaan tambahan:
• berjualan
• menjadi pengemudi ojek
• membuka les privat
Bukan karena
mereka tidak mencintai profesinya.
Tetapi karena idealime
tidak bisa menggantikan kebutuhan hidup. 💭
Alih-alih
menyelesaikan akar persoalan, kebijakan yang muncul sering bersifat jangka
pendek.
Salah satunya
adalah skema PPPK paruh waktu.
Model kontrak
seperti ini membuat masa depan guru semakin tidak pasti.
Guru
diperlakukan seperti tenaga kerja kontrak biasa,
bukan sebagai pendidik generasi bangsa. ⚖️
Kondisi ini sebenarnya menunjukkan gambaran yang lebih besar.
Dalam sistem
kapitalisme, manusia sering dinilai berdasarkan fungsi ekonominya.
Termasuk guru.
Peran mereka
dipersempit menjadi sekadar pencetak tenaga kerja untuk industri,
bukan pembangun peradaban. 🏭
Di
saat yang sama, tekanan ekonomi terus meningkat.
Biaya hidup
naik.
Kebutuhan dasar semakin dikuasai mekanisme pasar.
Guru pun ikut
terhimpit dalam kondisi tersebut.
Ironisnya,
mereka yang mendidik masa depan bangsa
justru sering kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. 💸
Padahal
dalam Islam, kedudukan orang berilmu sangatlah mulia.
Allah SWT
berfirman bahwa Dia mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
Artinya,
memuliakan guru bukan sekadar slogan.
Ia harus
diwujudkan melalui sistem yang benar-benar menghormati ilmu dan para
pengajarnya. 📖
Sejarah
peradaban Islam pernah membuktikan hal itu.
Pada masa
Khalifah Al-Ma’mun, karya ilmiah dihargai sangat tinggi.
Buku yang
ditulis para ulama bahkan dapat dihargai setara dengan berat emasnya.
Negara kemudian
menyebarkan ilmu tersebut secara luas kepada masyarakat.
Ilmu
benar-benar dimuliakan sebagai fondasi peradaban. ✨
Pertanyaannya
sekarang:
Jika hingga
hari ini banyak guru masih berjuang untuk mendapatkan kesejahteraan dan
perlindungan profesi,
apakah
persoalannya hanya pada kebijakan yang belum tepat,
atau sebenarnya
pada sistem yang digunakan?
Menurut Anda, bagaimana
seharusnya negara memuliakan para guru?

Post a Comment for "Nasib Guru dalam Jebakan Kapitalisme"